Berbagi Kasih
Hari ini Anis jengkel pada Bunda. Masalahnya Bunda melarang Anis untuk membeli kerudung yang ia idam-idamkan. Ceritanya sore ini Anis menemani Bunda belanja di salah satu pusat perbelanjaan, dan kebetulan disana sedang ada obral kerudung.
“bukannya Anis sudah punya kerudung model itu, warnanya juga sama.”kata Bunda menegurnya.
“tapi punya Anis tidak ada hiasaannya seperti ini Bunda”bujuk Anis seraya menunjukkan hiasan kupu-kupu itu ke Bunda.
“Anis beli pakai uang Anis sendiri deh Bunda”rengeknya lagi. Tapi Bunda tetap menggeleng dan mengajaknya berlalu dari rak itu.
“sayang, daripada jadi barang yang mubazir. Lebih baik uang Anis digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Lebih bagus lagi kalau Anis gunakan untuk membantu orang yang sedang membutuhkan. Apalagi pakaian Anis kan banyak yang sudah tidak muat, belum lagi yang tidak pernah Anis pakai. Cuma penuh-penuhi lemari pakaian saja jadinya”ceramah Bunda di perjalanan pulang. Anis hanya diam mendengarnya, bibirnya cemberut dan tak menoleh sedikit pun ke arah Bunda. Mang Udin yang duduk di depan setir hanya tersenyum simpul mengintip wajah majikan mudanya yang sedang ngambek itu dari kaca spion.
Beberapa hari kemudian,
“Sayang ntar sepulang mengaji Bunda jemput ya. Kita sama-sama menjenguk anak Mang Udin yang sedang sakit. Mama dengar dari Bik Sum tadi pagi, kalau anak Mang Udin terkena demam berdarah. Sekarang sedang di opname di rumah sakit. Ntar Mama tunggu di sini ya.”jelas Mama ketika mengantarnya mengaji. Setelah mencium punggung tangan Bunda, Anis bergegas menuju TPA tempatnya mengaji. Namun ketika baru sampai di depan pintu langkahnya tiba-tiba terhenti,
“Aduh…Anis lupa” seru Anis tiba-tiba seraya menepuk jidatnya. Hari ini kan jadwal acara kesenangannya akan ditayangkan di televisi. Mana episode terakhir lagi, pikirnya gundah. Bunda pasti tidak akan mengijinkannya untuk tidak ikut, bila ia katakan alasan yang sebenarnya. Ia juga heran, mengapa Bunda rajin sekali menjenguk orang sakit. Tak peduli siapa, asal sudah mendengar kabar pasti Bunda segera menyempatkan diri untuk menjenguk.
Akhirnya mesti dengan sedikit berat hati ia ikut Bunda menjenguk Zaki, putra Mang Udin di rumah sakit. Bocah berumur empat tahun itu tergolek lemas di ranjang. Tangannya di balut perban dan sebilah kayu menyangga lengannya. Sebuah selang yang menghubungkan cairan infus menjuntai di sisi ranjangnya. Matanya terpejam, kulitnya pucat dan badannya berkeringat. Mungkin karena ruang rawat inap anak ini tidak berAC, di sini juga tidak terdapat kipas angin. Hanya daun jendela yang dibuka lebar-lebar. Anis memandang sekelilingnya, beberapa ranjang berjajar di sisi-sisi ruangan. Semuanya berisi anak-anak balita dan yang paling besar sebaya dengannya. Mereka hanya tergolek lemas dengan beberapa kerabat yang menungguinya. Gerah mulai menyerang Anis, diam-diam dalam hati ia merasa iba dengan keadaan mereka. Sudah sakit, berada dalam ruangan seperti ini pasti tidak nyaman. Mereka pasti lebih gerah dari dirinya. Dalam hati ia berdoa agar mereka segera diberi kesembuhan.
Sesekali Anis melirik jarum jam di tangannya, kemudian mengalihkan pandangannya ke Bunda yang sedang membesarkan hati istri Mang Udin. Kegelisahannya semakin memuncak tatkala jarum jam menunjukkan pukul 15.45 WIB.
“Kurang lima menit lagi nih…”batinnya gundah.
Akhirnya Anis bisa bernafas lega. Tatkala melihat Bunda berpamitan. Tak lupa ia juga berpamitan pada Mang Udin dan istrinya, yang sedari tadi mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka. Anis bergegas masuk mobil, ia berharap masih bisa melihat acara kesayangannya tersebut. Paling tidak tahu cerita akhirnya, pikirnya dalam hati. Tapi diluar dugaan, perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu lima belas menit itu menjadi lebih lama karena macet. Setibanya di rumah. Setelah mengucap salam Anis berlari menuju ruang keluarga dan buru-buru menyalakan TV.
“Yah habis…”serunya lirih, ketika yang di dapatinya hanya tulisan TAMAT di layar.
Anis duduk lemas di sofa, di sampingnya Ayah sedang membolak-balik koran. Ia tersenyum geli melirik putri bungsunya yang mulai cemberut itu. Kemudian menaruh korannya dan mendekati putrinya.
“sudah, gak usah ngambek gitu dong. Lain waktu pasti ditayangkan ulang lagi. Ih..jadi tambah jelek deh putri Ayah kalau wajahnya ditekuk-tekuk gitu.”seloroh Ayah, berusaha mencairkan suasana. Anis yang baru sadar akan keberadaan Ayahnya, sedikit terkejut mendengar ucapan Ayah yang tiba-tiba. Bukannya mencair, mendengar itu bibirnya semakin bertambah maju beberapa centi. Melihat itu Ayah tertawa geli dan mengelus kepala putrinya serta menariknya ke pelukannya. Kalau sudah begini Anis luluh juga. Kehangatan pelukan Ayahnya memberi kesejukan di dadanya.
“Ayah tahu sekarang pasti Anis sedang menyalahkan Bunda, karena mengajak Anis menjenguk anak Mang Udin. Sehingga tidak dapat melihat acara kesayangan Anis itu”kata Ayah seraya memandang putrinya dengan penuh kasih.
“Sayang, dalam hidup ini kita memang memiliki banyak kegiatan. Namun kita harus pintar-pintar menyusun jadwalnya, sehingga tidak keteteran jadinya. Dan yang lebih penting lagi harus pandai memilah mana yang harus dilakukan lebih dulu dan mana yang bisa ditunda atau tidak perlu dilakukan. Sekarang coba renungkan, lebih penting mana antara melihat film dengan menjenguk saudara kita yang sakit.”jelas Ayah sambil memperhatikan ekspresi putrinya.
“pasti dalam hati Anis bertanya-tanya mengapa selama ini Bunda dan Ayah selalu segera menyempatkan untuk menjenguk orang sakit. Itu karena kita tidak tahu berapa lama lagi umur kita di dunia ini kan. Juga karena banyak sekali kebaikan yang dapat kita peroleh dengan menjenguk orang yang sakit. Salah satunya kita jadi dapat mensyukuri kesehatan kita. Dan itu juga merupakan wujud dari kepedulian kita pada orang lain. Alloh mencintai orang yang suka berbagi dan peduli dengan sesamanya loh. Apa Anis tidak ingin dicintai Alloh, dzat yang Maha mencintai?”tanya Ayah sambil menatap Anis lekat-lekat. Kini kebekuan di raut muka Anis mulai mencair, ia tampak mulai bisa mencerna penjelasan Ayahnya.
“Ayah jadi ingat pada salah satu hadits qudsi yang berbunyi bahwa pada hari kiamat nanti, Alloh akan berkata pada hamba-hamba-Nya, “Hai Hamba-hambaKu, dahulu Aku lapar, engkau tidak memberiku makan. Dahulu Aku sakit, engkau tidak menjengukku. Dahulu Aku telanjang, engkau tidak memberiku pakaian.” Kemudian hamba-hamba-Nya bertanya,”Tuhan, bagaimana mungkin kami melakukan itu semua sedang Engkau Tuhan semesta alam?”
Tuhan menjawab,”Dahulu ada hamba-Ku yang sakit, sekiranya kau jenguk dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, sekiranya kau beri makanan padanya, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-Ku yang telanjang, sekiranya kau berikan pakaian kepadanya, engkau akan temukan Aku di situ”. Dari kisah di atas kita jadi tahu kan bahwa Alloh tidak suka pada orang yang tidak suka berbagi dan cuek pada orang lain. Ayah yakin putri ayah ini bukanlah salah satu dari mereka”kata Ayah menutup penjelasannya. Anis tersenyum menanggapi pujian Ayahnya itu.
“dan pasti tidak keberatan kan bila besok ikut Bunda mengantarkan bantuan ke posko bencana alam”tanya Bunda yang ternyata dari tadi turut mendengarkan. Anis tersenyum malu-malu.
“InsyaAlloh bunda. Sekarang Anis mau pilih baju yang masih bisa digunakan untuk disumbangkan. Anis kan juga ingin selalu disayang Alloh”kata Anis sambil melangkah ke kamarnya. Meninggalkan Ayah dan Bunda yang saling pandang, senyuman mereka mengembang mengiringi kesejukan yang tengah merayapi hati mereka.

0 komentar:
Posting Komentar