Membudayakan Dzikir

Selasa, 25 Januari 2011 02.23 By ReNi NiNGsiH

Hidup ini memang ladangnya masalah & ujian. Tanpa diundang atau dicari pun, masalah akan tetap kita temui. Setelah menyelesaikan masalah yang satu, maka kita akan mendapat masalah baru untuk diselesaikan. Semua itu ibarat anak sekolah yang terus mendapat soal ujian untuk bisa naik kelas & lulus ujian.

Perjalanan naik kita akan selalu ditaburi dengan ujian-ujian. Ujian-ujian itu adalah tantangan yang membutuhkan keberanian dan kecerdasan kita untuk membentuk kekuatan pribadi. Bila kita tidak bisa menang & lulus sekarang, kita yakin akan menang & lulus dilain waktu nanti. Itu sebabnya, kejernihan dalam menyikapi kegagalan, simak ungkapan berikut:

  • Kegagalan adalah tanda tidak tepatnya arah. Penyesuaian adalah nama perjalanannya.
  • Kegagalan adalah tanda tidak cukup baiknya cara, Peningkatan adalah nama pelatihannya.
  • Kegagalan sebetulnya tertundanya sebuah keberhasilan. Kesabaranadalah nama penantiannya.
  • Kegagalan adalah tanda tidak cukupnya kekuatan. Kesungguhan adalah nama keharusannya.
  • Kegagalan adalah tanda akan adanya keberhasilan. Iman adalah nama keyakinannya.

Walaupun semua ustadz, kyai, da‘i, telah menasihati kita agar tetap tenang dalam menjalani hidup dan kehidupan, namun seringkali kita lupa, atau mungkin sengaja kita lupakan karena kita menutup diri dari nasehat-nasehat.

Setiap ada masalah, pikiran kita selalu resah, hati pun gelisah dibuatnya. Bahkan, kadang kala kita menyalahkan kehidupan itu sendiri. Waktu memang tidak terbatas, namun waktu yang kita miliki sangat terbatas.

Jika diri kita resah dan gundah, apa yang harus kita lakukan untuk menenangkan hati dan menentramkan jiwa? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita renungkan pertanyaan-pertanyaan pengantar berikut ini yang jawabannya sudah tersurat di dalamnya.

  • Siapakah yang paling mengerti sebuah lagu selain penggubahnya?
  • Siapa yang lebih memahami lukisan selain senimannya?
  • Siapakah yang mengenal dengan baik sebuah motor atau mobil jika bukan pabrik pembuatnya?
  • Siapa yang lebih mengetahui indahnya sebuah bangunan bila bukan sang arsitektur?
  • Siapa yang lebih mengerti tentang diri kita jika bukan Allah Yang Menciptakan kita?

Untuk menenangkan jiwa dan menentramkan hati, Allah SWT telah memberikan obat yang sangat mujarab kepada kita sebagai hamba dalam firman-Nya :

Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram. (Ar-Raad [13] : ayat 28)

  • Hati yang tentram adalah hati yang bebas dari rasa takut, serta tenang mengharap janji Tuhannya dengan penuh keyakinan, tawakal dan kejujuran.
  • Hati yang tentram adalah hati yang terhibur dari duka cita, sehingga merasa bebas dari kegusaran dan kesedihan hati.
  • Hati yang tentram adalah hati yang hidup bahagia, diridhai oleh Tuhan, dan ia pun ridha pada Tuhannya.
  • Hati yang tentram adalah hati yang terbebas dari rasa bimbang dan terlepas dari rasa ragu; hati yang teduh, kokoh dan tak terguncang.
  • Hati yang tentram adalah hati yang tak terpilah-pilah, yang menyatukan kembali kekuatan dan arahnya.
  • Hati yang tentram adalah hati yang terpelihara dari godaan setan, dominasi hawa nafsu, serangan, tipu daya dan kejahatan musuh.

Ma’a siraa muslimin yang dirahmati Allah,

Kejujuran itu kekasih Allah. Kejujuran merupakan obat pencuci hati.

Tidak ada satu pekerjaan yang lebih melegakan hati dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah.

0 komentar:

Posting Komentar