Membudayakan Dzikir
Hidup ini memang ladangnya masalah & ujian. Tanpa diundang atau dicari pun, masalah akan tetap kita temui. Setelah menyelesaikan masalah yang satu, maka kita akan mendapat masalah baru untuk diselesaikan. Semua itu ibarat anak sekolah yang terus mendapat soal ujian untuk bisa naik kelas & lulus ujian. Perjalanan naik kita akan selalu ditaburi dengan ujian-ujian. Ujian-ujian itu adalah tantangan yang membutuhkan keberanian dan kecerdasan kita untuk membentuk kekuatan pribadi. Bila kita tidak bisa menang & lulus sekarang, kita yakin akan menang & lulus dilain waktu nanti. Itu sebabnya, kejernihan dalam menyikapi kegagalan, simak ungkapan berikut: Walaupun semua ustadz, kyai, da‘i, telah menasihati kita agar tetap tenang dalam menjalani hidup dan kehidupan, namun seringkali kita lupa, atau mungkin sengaja kita lupakan karena kita menutup diri dari nasehat-nasehat. Setiap ada masalah, pikiran kita selalu resah, hati pun gelisah dibuatnya. Bahkan, kadang kala kita menyalahkan kehidupan itu sendiri. Waktu memang tidak terbatas, namun waktu yang kita miliki sangat terbatas. Jika diri kita resah dan gundah, apa yang harus kita lakukan untuk menenangkan hati dan menentramkan jiwa? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita renungkan pertanyaan-pertanyaan pengantar berikut ini yang jawabannya sudah tersurat di dalamnya. Untuk menenangkan jiwa dan menentramkan hati, Allah SWT telah memberikan obat yang sangat mujarab kepada kita sebagai hamba dalam firman-Nya : Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram. (Ar-Raad [13] : ayat 28) Ma’a siraa muslimin yang dirahmati Allah, Kejujuran itu kekasih Allah. Kejujuran merupakan obat pencuci hati. Tidak ada satu pekerjaan yang lebih melegakan hati dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah.

0 komentar:
Posting Komentar